Search posts by:

Search posts by:

Newsletter successfully sent
Failed to send newletter

AnalysisSSESSMENTS: Analisis Detail Dampak COVID-19 Terhadap Bisnis, Permintaan Polymers di India

Author: SSESSMENTS

Ringkasan: 

  • Penerapan lockdown nasional selama 21 hari di India dimulai pada bulan Maret
  • Permintaan telah mulai menurun sebelum lockdown dikarenakan banyak faktor
  • Beberapa pelabuhan di India memberlakukan pembatasan pelabuhan, mengumumkan force majeure
  • Sebagian besar produsen petrokimia India juga mengumumkan force majeure
  • Pada akhir kuartal kedua 2020, Rupee diproyeksikan akan mencapai 80.000 per USD 
  • Pemerintah memperpanjang lockdown hingga tanggal 3 Mei dikarenakan jumlah kasus terus naik
  • Produsen utama petrokimia India mulai mengekspor kargo PVC

COVID-19, yang mana muncul di Cina akhir tahun lalu, sudah menyebar setidaknya ke 177 negara di dunia. Pada tanggal 31 Januari 2020, India mengumumkan kasus pertama coronavirus. Sepanjang bulan Februari sampai awal Maret, belum ada efek yang signifikan terhadap pasar polymer kecuali beberapa pemain meratapi sentimen pembelian yang menurun. Seperti yang dikutip dari sumber pasar kepada SSESSMENTS.COM, sentimen pembelian yang lemah disebabkan karena banyak faktor seperti kekhawatiran yang meningkat atas pandemi coronavirus, depresiasi Rupee, serta pola tahunan untuk menjaga persediaan agar tidak menumpuk mendekati akhir tahun.

Percobaan pencegahan penyebaran coronavirus pertama kali di India, beberapa pelabuhan di negara tersebut memberlakukan pembatasan; yang mana memerlukan karantina selama 14 hari untuk kapal yang datang dari beberapa negara termasuk Cina, Iran, Italia, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Vietnam, Hong Kong, Macau, Thailand dan Indonesia. Percobaan kedua, perdana menteri India akhirnya memutuskan lockdown nasional selama 21 hari yang dimulai pada tanggal 24 Maret. Setelah pemerintah mengumumkan lockdown, beberapa pelabuhan di India termasuk Dhamra, Gangavaram, Gopalpur, Karaikal, Krishnapatnam, Mundra and Tuna telah mengumumkan force majeure karena operasi terkena parah dampak virus, SSESSMENTS.COM diberitahu. Selain itu juga, semua pabrik polymers terpaksa ditutup; meskipun jika terdapat kesepakatan harga yang dicapai, kargo tersebut tidak dapat dikirim karena kurangnya pengemudi. Pada saat yang sama, beberapa pelabuhan besar masih beroperasi dan bea cukai masih buka, namun, transportasi dari pelabuhan ke gudang akan terganggu karena sebagian besar sektor logistik tidak beroperasi. Oleh karena itu, sebagian besar kargo terjebak di pelabuhan. 

Namun, di negara berkembang seperti India, skenario terburuk lockdown dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah di tahun sebelumnya telah menyebabkan kondisi pasar yang sangat fluktuatif. Seperti yang dilaporkan, lockdown mengakibatkan penutupan bisnis dan pengangguran untuk ribuan pekerja. Beberapa bisnis seperti hotel dan pesawat menurunkan gaji dan merumahkan karyawan mereka. Selama lockdown, ekonomi India diperkirakan merugi hingga ₹32,000 crore (US$4.5 billion) tiap harinya. Rupee juga telah terdepresiasi ke level rendah sepanjang masa yang terjadi dalam satu hari sebesar 76,2088 terhadap uang kertas pada hari Senin, tanggal 23 Maret. Pada akhir bulan Juni, beberapa sumber industri menyatakan bahwa mungkin berada di 80.000 per USD, karena tekanan penjualan di outflows akan membebani mata uang lokal. Lockdown meninggalkan efek yang dramatis bagi negara, terutama untuk sektor bisnis seperti bahan baku dan suku cadang, farmasi, pariwisata, dan penerbangan. Krisis Covid-19 diperkirakan sangat mempengaruhi keseluruhan tren konsumsi dan pengeluaran konsumen di India sepanjang kuartal 2 dan kuartal 3 tahun 2020 yang berasal dari hilangnya pendapatan bagi sebagian besar masyarakat, oleh karena itu merugikan belanja konsumen dan mengurangi prakiraan pertumbuhan. Sebelum terjadi krisi, permintaan konsumen sudah menurun dan dengan lockdown menyebabkan bisnis berhenti, pendapatan tampak secara signifikan berkurang pada pekerja harian dan pengurangan upah di seluruh perusahaan. 

Karena lockdown, perkiraan pertumbuhan India pada tahun 2020 menjadi suram. Lockdown telah menyebabkan kerusakan ekonomi yang lebih banyak di negara tersebut daripada yang diantisipasi. Pada saat ini, PDB India direvisi turun dari proyeksi yang sebelumnya 2,5% menjadi 0% untuk tahun 2020 dan margin naik sebanyak 0,8% untuk akhir fiskal bulan Maret tahun 2021. Dalam prospek ekonomi global, Fitch Ratings menyatakan bahwa pertumbuhan PDB India untuk level bulan April 2020 hingga bulan Maret 2021 akan turun ke level terendah dalam 30 tahun yaitu sebanyak 0,8% dari 5,1% sebelumnya. Namun, pada tahun 2021-2022, PDB diperkirakan akan meningkat menjadi 6,7%.

Dari sisi produksi, sebagian besar produsen petrokimia India di negara itu menyatakan force majeure di tengah lockdown Coronavirus. Pertama, Haldia Petrochemicals (HPL) India menutup kompleks perusahaan yang memiliki kapasitas produksi HDPE sebanyak 345.000 ton/tahun dan yang memiliki kapasitas produksi LLDPE sebanyak 365.000 ton/tahun pada akhir bulan Maret, tetapi belum ada tanggal pasti yang diungkapkan. Kedua, Mangalore Refinery and Petrochemicals Ltd (MRPL) juga menutup pabrik PP  yang memiliki kapasitas produksi sebanyak 440.000 ton/tahun pada tanggal 26 Maret. Ketiga, Chemplast Sanmar India mengumumkan force majeure di pabrik PVC perusahaan yang berlokasi di Bendungan Mettur dekat Salem di Tamil Nadu. Produsen tersebut mengkonfirmasi bahwa pabrik EDC, Chlorine, Caustic Soda, serta pabrik PVC yang memiliki kapasitas produksi sebanyak 300.000 ton/tahun, telah ditutup sejak tanggal 26 Maret. Pada saat yang sama, produsen itu tidak memiliki kegiatan pengiriman karena lockdown, SSESSMENTS.COM mencatat. Sementara itu, Reliance Industries Ltd awalnya tidak memiliki rencana untuk menutup pabrik PVC miliknya yang memiliki kapasitas produksi sebanyak 445.000 ton/tahun, namun, karena ketidakseimbangan penawaran-permintaan di tengah lockdown Coronavirus, produsen itu terpaksa untuk menutup pabrik PVC milik perusahaan. Reliance menutup kedua pabrik PVC yang berlokasi di Vadodara dan Hazira, India, pada tanggal 30 Maret dengan kapasitas masing-masing sebesar 70.000 ton/tahun dan sebesar 375.000 ton/tahun karena tingkat persediaannya yang tinggi di tengah permintaan yang lesu karena pandemi Coronavirus. Sementara itu, pabrik PVC lain yang berlokasi di Dahej dengan kapasitas produksi sebanyak 335.000 ton/tahun masih tetap beroperasi. Dari pasar hilir, hanya produsen yang menghasilkan produk-produk penting yang diizinkan beroperasi selama lockdown. Namun, karena kurangnya tenaga kerja, sebagian besar produsen hanya menjalankan aktivitas produksi di bawah 50% dari tingkat normal. Di Kanpur, hanya ada sekitar 10% pabrik yang beroperasi. 

Ketika kasus-kasus Coronavirus di India terus meningkat, pemerintah India mengumumkan perpanjangan lockdown nasional. Berdasarkan pengumuman pemerintah, lockdown yang akan berakhir pada tanggal 14 April, diperpanjang hingga tanggal 3 Mei sebagai langkah untuk mengekang penyebaran lebih lanjut dari virus yang mematikan. Meskipun lockdown diperpanjang, beberapa sumber pasar menyatakan kepada SSESSMENTS.COM bahwa pemerintah akan mengizinkan beberapa pabrik untuk melanjutkan kegiatan produksi tergantung pada kode warna wilayah tersebut. Lebih lanjut dijelaskan oleh sumber pasar tersebut, bahwa Perdana Menteri Narendra Modi telah meminta Departemen Perindustrian (DPIIP) bersama dengan menteri terkait lainnya untuk menyiapkan rencana pengoperasian kembali industri-industri penting yang berkaitan dengan kehidupan banyak orang. Meskipun pemerintah telah memberikan izin untuk melanjutkan aktivitas operasi, beberapa produsen dan konverter yang bersedia untuk melanjutkan produksinya harus dapat memenuhi persyaratan tertentu; dimana perusahaan perlu memastikan bahwa pekerja mereka menjaga jarak fisik minimal dua meter dari satu sama lain dan harus selalu menyediakan pembersih di pabrik mereka.

Didorong oleh rencana pemerintah, para produsen India secara bertahap mulai meningkatkan aktivitas produksi mereka. Reliance Industries Ltd melanjutkan aktivitas produksi PVC pada pabrik Hazira yang memiliki kapasitas produksi sebanyak 375.000 ton/tahun pada awal pekan 20 April, sementara pabrik PVC di Vadodara yang memiliki kapasitas produksi sebanyak 70.000 ton/tahun beroperasi pada tanggal 23 April. Pada tanggal 24 April, produsen tersebut melaporkan bahwa semua pabrik PVC beroperasi antara 90-95%. Sedangkan untuk DCW, produsen itu juga memulai kembali mengoperasikan pabrik PVC pada tanggal 23 April. DCM Shriram kemungkinan besar akan melanjutkan aktivitas produksi pada pekan terakhir bulan April sementara Finolex mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Namun, ditambah dengan dimulainya musim hujan, seorang sumber pasar menyebutkan bahwa permintaan yang lemah, terutama untuk PVC diperkirakan akan bertahan selama sepanjang tahun 2020. Selama bulan April, penjualan dari pihak produsen sebagian besar hanya sekitar 20-30% dari tingkat normal. Pada bulan Mei, penjualan diprediksi masih tetap stagnan saat mendekati bulan Juni, penjualan mungkin akan bisa mencapai 50-60%. Pada bulan Juli, penjualan kemungkinan besar masih belum bisa mencapai 100% karena musim hujan akan melanda negara itu pada saat itu. Akibatnya, pasokan di pasar domestik akan menumpuk. Seorang trader India menyatakan pendapatnya kepada SSESSMENTS.COM bahwa setelah lockdown diperpanjang, pasokan produsen untuk PVC diperkirakan akan meningkat menjadi 90.000 ton sementara pasokan trader di pasar terbuka diprediksi menyentuh level 250.000 ton. Oleh karena itu, India perlu setidaknya menurunkan jumlah impor untuk sepanjang tahun ini untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan. 

Seperti yang sudah diperkirakan, beberapa pemasok PVC luar negeri mencakup produsen PVC Taiwan dan produsen PVC Jepang memutuskan untuk mengabaikan penawaran untuk pengiriman bulan Mei ke pasar India di tengah penurunan permintaan. Sebaliknya, produsen PVC India memutuskan untuk mengekspor kargo mereka ke pasar global. SSESSMENTS.COM selanjutnya diberitahu bahwa keputusan untuk mengekspor kargo terutama disebabkan oleh permintaan yang lambat setelah lockdown nasional yang diberlakukan oleh pemerintah dan tingkat persediaan yang tinggi. 

Dinobatkan sebagai importir PVC terbesar di dunia, permintaan PVC India adalah sekitar 3 juta ton/tahun; 70% dari permintaan yang datang dari sektor pertanian dan konstruksi, dengan industri pipa dan perabotan. Sementara itu, kapasitas domestik hanya sekitar 1,45 juta ton/tahun, berasal dari Reliance, Chemplast, Finolex, DCW Ltd dan DCM Shriram. Karena itu, negara perlu mengimpor sekitar 50% untuk memenuhi permintaan domestik. Tetapi karena coronavirus merobohkan sentimen pembelian di pasar domestik, pasar PVC global telah menderita. “Melemahnya pasar PVC global telah diperkuat oleh berita bahwa India akan memperpanjang lockdown hingga tanggal 3 Mei. Harga impor di sebagian besar pasar Asia telah jatuh ke level terendah dalam lebih dari satu dekade,” seorang sumber pasar berkomentar kepada SSESSMENTS.COM. Demikian pula untuk MEG, penjual dari India juga mencari outlet di luar negeri untuk mengekspor kargo, sementara beberapa produsen MEG India menurunkan tingkat produksi hingga 50% karena gudang yang terbatas. Untuk semua polimer dalam rantai pasokan, dari para produsen ke para konverter hingga para pengguna akhir, produk tersebut belum dapat dikirim dari pabrik yang mana mengakibatkan tingkat operasi yang lebih rendah di seluruh dunia, mengingat hal ini, ekspor dari India kemungkinan akan terus berlanjut untuk mengurangi tekanan pada pasokan domestik. Memperparah keadaan, kemerosotan harga minyak mentah AS pada tanggal 20 April telah membuat sentimen pasar polimer memburuk lebih lanjut. Di India, terdapat setidaknya tiga penyuling yang telah memangkas minyak impor dari produsen Timur Tengah untuk bulan Mei karena permintaan yang lesu karena dampak dari wabah Coronavirus. Menurut sumber pasar tersebut, Hal tersebut adalah bulan kedua secara berturut-turut bahwa perusahaan penyulingan India telah menurunkan minyak mentah impor jangka panjang mereka. 

Tags: All Chemicals,All Markets,All Plastics,All Products,Analysis,Asia Pacific,ISC,India,Indonesian,PE,PP,PVC

Published on June 4, 2020 10:02 AM (GMT+8)
Last Updated on June 4, 2020 10:02 AM (GMT+8)